biem.co – Entah kenapa, Kementerian Penerangan yang sudah bertransformasi menjadi akun YouTube itu meng-upload tiga lagu tersebut, namun setelah tiga hari, tiga lagu itu hilang dan tidak muncul kembali hingga saat ini. Tentu saja hal ini membuat Netizen menduga-terka bahwa hal itu tidak sengaja, dan sebagian yang lain mengira main-main aja. Akan tetapi bagi saya, ketiga lagu itu memiliki tujuan kongkrit, yaitu telinga warga Banten yang ada di dalam tulisan “Kenapa Baduy Selalu Dibayangkan Sebagai Teater Museum”.
Ya, tiga judul lagu tersebut sesungguhnya menyajikan kerangka tekstur dan struktur, sehingga bisa dibayangkan perspektif dan tindakannya, karakteristik setiap subjek serta arena pembentuk habitusnya masing-masing. Bahkan jika lagu ini diberikan pada Sutradara cap drama, ketiga subjek itu berpotensi menciptakan teks konfliks dan klimaks yang dahsyat, sehingga layak dipanggungkan di halaman rumahnya.
*
Sebagai sebuah bayangan dasar─jika belum mendengarkan tiga lagu itu, sila dengarkan terlebih dahulu, supaya lebih lengkap membayangkannya─bahwa Tera Angkara (selanjutnya TAr) dapat diasosiasikan dengan kata-kata kunci seperti progresif, revolusioner, konfrontasi, proletariat dengan visi demokratisasi. Di sisi lain Senyum (selanjutnya SYM) akan selalu berpegang pada konsep guyub-rukun. Sedangkan Bangun Tidur (BT), bisa muncul sebagai intrumen formal-tersetruktur seperti runtutan tindakan dalam setiap larik lagu tersebut. Hal itu mencerminkan stereotip dalam menafsir dan menjalankan sesuatu. Dan biasanya tindakannya tidak akan keluar dari batas dan aturan. Jika mereka yang bertugas menjalankan undang-undang Pemajuan Kebudayaan yang berisi empat kata kunci, pembinaan, perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan, niscaya mereka akan mengacu undang-undang tersebut secara denotatif, kalau pun ada karakteristik konotatif, mereka hanya mengaktifkan ikatan kedaerahan, semata memajukan saudaranya lewat praktik ekonomi kreatif.
Untuk menambah keintiman dialogis tiga lagu itu, kita memang perlu membentangkan spasial pertemuan mereka. Katakanlah di sebuah museum yang kerap melakukan praktik cerdas-cermat, mungkin juga debat, atau mungkin juga carnaval argumen yang heboh.
**
Mari membayangkan kelanjutan dari pertemuan itu, jika topik utamanya membahas “Cinta Kepada Kebudayaan Baduy”, regu mana yang paling bersemangat dan duluan menjawab?
Tentulah regu BT, karena biasanya yang paling bersemangat dan optimis dalam hal menjawab pertanyaan seperti itu adalah orang-orang yang memiliki karakteristik teknikal, regu ini akan menyambarnya dengan bunyi bel yang khas, seraya berkata: “izin menjawab, Pak. Sesuai permen, perda dan perdes…”
Isi argumennya tentu panjang, seperti isi makalah atau isi PPKD, jadi saya pikir pembaca sudah bisa membayangkan dialognya, jadi free memory saja. Dapatkah membayangkan ekspresi, gestur dan kostum yang dipakai oleh tokoh satu ini?
Mungkinkah Jawaban formalis dan kaku ini keluar dari seorang yang menggunakan pakaian dinas dan udeng gaya Makuta Wangsa? Entahlah. Namun yang pasti model tamplet ini biasanya keluar dari orang-orang seperti itu. Sekali lagi, entahlah.
Dirasa jawaban tersebut dikesankan formal, rekan satu regunya itu dipastikan akan menambal argumen temannya “Baduy dan kami itu satu kesatuan, tepatnya satu trah beda bagbagan, kecintaan kami pada kebudayaan Baduy seperti tertuang dalam regulasi, tak perlu diragukan lagi, tak perlu disangsikan, dan jikalau ada, itu berarti melakukai hati kami, khususnya saya, yang kerap ditunjuk sebagai tim ahli. Dan cara saya menempatkan diri itu berlandaskan persaudaraan, silahkan cek pada masyarakat Baduy, mereka tahu betul bahwa saya itu sangat mencintai mereka. Contohnya: ketika masyarakat Baduy dijadikan konten tidak elok di platform medsos, sayalah orang pertama yang berinisiatif untuk melakukan konsolidasi, menata ulang apa yang boleh dan tidak boleh, sebab Baduy bukan hanya sebagai tempat dan adat-istiadat sebagaimana terkatagori dalam tujuh unsur kebudayaan, tapi Karuhun yang berdiam di tanah ulayat yang perlu dihormati dan dimumule oleh kita semua. Dan sisi lainnya, saya perlu menegaskan bahwa saya asli kelahiran daerah sini, saya bukan pendatang. Ya, kecintaan kami, khususnya saya, bukan kaleng-kaleng. Asli, bukan KW-an seperti produk aseng”.
Karena dirasa argumen temannya melibatkan paseduluran, jadi munkin rekan satunya lagi akan memulai argumennya dari “meski saya bukan asli dari Baduy, tapi kontrakan saya dekat sekali dengan pemukiman mereka. Sehingga saya dan mereka bisa dikatakan dekat, saya pun menginginkan yang terbaik bagi Baduy. Faktanya, cinta saya pada Baduy menjelma cinta kolaboratif. Banyak hasil penelitian yang telah saya buat untuk kemaslahan bersama, bahkan penelitian saya dapat dikatakan on going dan saya mengupayakan hasil penelitiannya berkelanjutan. Ini demi masa depan pendidikan dan membiaknya pengetahuan anak-anak bangsa. Ya, dalam hal ini pengetahuan masyarakat Baduy perlu disebar luaskan ke kancah nasional bahkan global, sesuai visi-misi BRIN” pungkas pemuda terpelajar yang sedari tadi diperhatikan oleh kedua rekannya.
Sambil menanggung butiran linang di mata bangganya, mereka tersipu sekaligus takjub pada apa yang telah dicapai oleh pemuda terpejalar itu, sebab dia telah dianggap sebagai generasi penerus. Seorang yang berhak melanjutkan tongkat estapet kebudayaan daerah.
“hemmm, he’emmmhh” adalah respon organik yang sejak awal keluar dari mulut regu SYM untuk mengekspresikan ketakjubannya pada argumentasi regu BT. Respon itu muncul seperti bunyi gong atau semacamnya untuk kebutuhan harmonisasi. Barang kali keorganikannya bisa juga bibayangkan dengan celetukan penabuh kendang dalam pergelaran wayang atau celetukan Sakum dalam pertunjukan tayub Ronggeng Dukuh Paruk. Seraya menebar senyum dan mengangguk-ngangguk.
Suporter TAr tentu sudah menebak arah kawan-kawannya. Argumennya akan terkunci. Mati kutu di dalam forum normatif, dan kalaupun diberikan kesempatan oleh Pemandu, argumennya sudah dipastikan hanya menjadi pelengkap belaka. Dan jika itu terjadi, sedari awal kawan-kawan TAr bersepakat untuk membuat diskusi terbuka yang lebih progresif.
“ya, sila, regu TAr, menanggapi argumen dari regu BT” ujar ramah Pemandu acara. “jadi, begini..” langsung dipotong Pemandu “saudara.. Saudara tekan dulu belnya, baru berargumen. Sila, tekan dulu.. lalu lanjutkan”. Dengan semangat bercampur kesal seorang dari regu TAr menekan bel itu, lama. Mungkin mereka ingin bermain metafor. Mungkin juga ingin meninggalkan kesan bagaimana kondisi buruh diistirahatkan di sebuah pabrik, atau bisa pula menggambarkan keadaan di camp-camp konsentrasi. Entahlah. Bunyi itu dipastikan memekak ke telinga.
“Maka mantra Widji ini akan mendahului argumentasi kami: Jangan coba bikin ketentraman dengan penuh ancaman. Jika demikian, kalian telah menggugah raksasa yang tertidur di bawah selimut perdaimaian palsu. Maka pada saat itulah sejarah akan kembali membacakan: Kisah-kisah tirani, yang harus diturunkan” Nadanya semakin bersemangat dan lugas. “Disklaimer nih.. jelas, kami berjarak. Dan akan tetap membuat jarak, barang kali dengan cara ini, argumentasi kami akan dibaca sebagai sistem berpaling terhadap Baduy. Satu sisi kami bersepakat dengan argumen bahwa Baduy bukan hanya tempat dan objek, bahkan pembacaannya bukan hanya dalam term organisme yang hidup dan berkembang di kawasan gunung Kendeng. Bagi kami, maknanya jauh melampaui makna-makna yang ada di dalam kepala kita. Terlalu sempit jika hanya di lacak dari satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya, atau bisa pula pemaknaan kita salah selama ini. Siapa tahu” Sebagian suporter seperti tidak terima. Ingin menyela. Tapi pihak TAr melanjutkannya.
“Justru kami menaruh curiga pada topik yang digulirkan: Cinta Kepada Kebudayaan Baduy. Topik ini seolah merepresentasikan kondisi kita yang selalu ingin menginput hasrat yang mewakili kelembagaan tertentu di dalam kepala kita. Kerangka semacam ini dapat minumbulkan konsekuansi totaliteriat, bahwa Baduy harus beginilah dan Baduy wajib begitulah, sehinga bila suatu saat mereka keluar dari kontruksi yang ditetapkan, konsekuensi lanjutannya bisa berarti pembiaran atau hukuman” seraya regu TAr menatap tajam.
“kita sudah tidak adil dari sejak dalam pikiran, kata Pram. Hal ini terlihat dari cara kita menatap dan memposisikan mereka. Sejak awal topik yang dimaksud sudah membawa perangkap yang disebut hegemoni. Baduy seperti arena berebut kuasa kita-kita, lantas dengan suka-cita kita bersembunyi di balik ketiak kekuasaan, bagitu kalau meminjam orasi Munir” suaranya turun. “Coba topiknya diubah: Cinta Baduy Kepada Kita. Saya pikir hasil argumentasinya akan berbeda”.
Suasana Cerdas-cermat, mungkin juga debat itu hening. Dan seorang dari regu SYM menekan bel, bicara: saya hanya ingin mengingatkan, sebaiknya kita jangan terlalu su’udzon, karena hal demikian datang dari setan”. Hadirin tepuk tangan.
Topik-topik digulirkan seperti air yang disemprotkan oleh mesin cuci motor, argumentasi layaknya kanebo dan sampoo kit untuk meng-kinclongkan kebudayaan Baduy. Debat itu usai.
***
Dan yang saya membayangkan Band Efek Rumah Dinas menutup acara cerdas-cermat itu. Lalu mereka berorasi “sodara-sodara, permasalahnya muncul dari Baduy sebagai manifestasi kebudayaan yang berharga, sejak saat itulah hukum bentuk dan isi berlaku, seperti objek dan makna. Maka dalam konteks tata kelola pariwisata, makna itu setuatu yang berharga, sehingga perlu ditunjukan pada khalayak, baik dengan cara hard selling atau pun sotf selling” Jreeeeeengg… (Red)
Peri Sandi Huizche, penulis adalah seniman Banten, kini berdomisili di Solo.