Irvan HqKolom

Resti Meidiyani Dimyati: Kembalinya Sosok Ayah di Tepi Penantian

Saya ingat betul tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 18 November 2016 saya mendapat kiriman Messenger berupa kartu pos dari Om Irvan yang sedang berada di Seoul, Korea Selatan. Didalam kartu pos tersebut Om Irvan menulis, “Untuk sampai kesini, saya tidak punya uang. Satu-satunya modal yang saya punya adalah : Do’a dan Kerja Keras.” – (Kembalinya Sosok Ayah di Tepi Penantian)

CSI#16, biem.coSelain nama Panji Aziz Pratama, sosok lain yang sering dibicarakan dan dieluk-elukan orang-orang Istana Belajar Anak Banten (Isbanban) adalah nama Irvan Hq.  Panji wajar dielu-elukan karena ia adalah Kapten Isbanban, tapi siapa Irvan Hq?

Panji juga selalu menceritakan bahwa Irvan Hq merupakan sosok yang melatarbelakangi kesuksesan Panji meniti perjuangannya, baik sebagai pribadi maupun perjalanan Isbanban hingga berhasil mendidik  455 anak binaan dengan 592 relawan pada tahun ke-5. Karena itu, saya penasaran bagaimana ikatan Irvan Hq dengan para pemuda Banten. Apa yang membuat beliau begitu peduli dengan kami, pemuda yang tak memiliki apa-apa?

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Saya betul-betul penasaran. Ini memang sifat saya, sering penasaran terhadap sesuatu yang terus menerus dibicarakan. Hingga suatu ketika, Allah mendengar doa saya untuk lebih mengenal sosok yang dikagumi oleh orang-orang Isbanban.

14 September 2016 adalah tanggal bersejarah buat saya, dimana biem.co mengumumkan 5 orang peserta yang lolos seleksi penerima beasiswa Akademi Indonesia Kreatif tahun 2016. Kelima penerima beasiswa tersebut adalah Putri Nur Pertiwi dari Kota Tangerang, Happy Muslimah dari Kota Serang, Aldi Rinaldi dan Tubagus Maskur dari Kota Cilegon, serta saya sendiri Resti Meidiyani Dimyati dari Kabupaten Pandeglang. Beasiswa kepenulisan jurnalistik biem.co seperti pintu gerbang buat saya untuk bertemu seorang lelaki bernama Irvan Hq, orang baik yang namanya selalu saya dengar.

Diceritakan oleh Irvan Hq, sejak tahun 2007 silam biem.co telah melewati tiga fase metamorphosis dan sampai saat ini terus konsisten mempertahankan nilai yang sejak awal menjadi pijakan dalam peningkatan indeks pembangunan manusia di Banten. Di antara upaya tersebut adalah dengan memberikan Beasiswa Akademi Indonesia Kreatif (AIKA). “Saya berharap anak-anak muda kreatif yang terpilih mengikuti program beasiswa ini dapat lebih mendalami pengetahuan dan pengalamannya sehingga memiliki daya saing di bidang masing-masing dan ke depan siap bekerja di bidang kreatif,’ ujarnya saat memberikan sambutan di depan kami peserta program AIKA.

Program yang dicetus oleh Komunitas Banten Muda ini bertujuan untuk melatih keahlian anak-anak muda yang lolos seleksi supaya bisa siap terjun ke dunia kerja. Semenjak menjadi peserta program AIKA, saya berhenti dari kebiasaan membeli jajanan favorit saya yaitu seblak dekat rumah setiap hari Sabtu dan menyimpan uang tersebut untuk ongkos angkutan Pulang Pergi dari Pandeglang ke Serang. Karena biasanya saat weekend ongkos angkutan umum suka berbeda. Saya harus pandai-pandai mengatur uang dan waktu. Ayah Bapak saya telah lama meninggal dan mamah saya sering sakit-sakitan. Uwa (sebutan untuk Kakak dari Ibu/Bapak dalam bahasa Sunda) yang membiayai hidup saya. Saya tidak bisa selalu mengandalkan beliau saja, saya harus sering mencari dan mendapatkan berbagai macam beasiswa untuk meminimalisir pengeluaran Uwa saya.

Beasiswa AIKA ini adalah salah satu kesempatan emas, yang tak dapat saya lewatkan begitu saja. Suatu saat nanti, saya harus bisa hidup dari jerih payah saya sendiri. Keahlian yang saya punya yaitu menulis, ditambah pelatihan ini, saya yakin bisa membantu. Syukur – syukur bisa memberi orang tua juga, aamiin.

Semula saya pikir beasiswa senilai Rp7 juta yang diberikan AIKA dalam bentuk uang setumpuk, tapi ternyata salah. Hal ini karena uang Rp7 juta rupiah per orang itu diberikan dalam berbagai bentuk fasilitas belajar yang memadai. Pihak Banten Muda berusaha menyiapkan alat pancing bukan berupa ikan. Saya sangat mengapresiasi filosofi Ketua Banten Muda Community, Irvan Hq yang mengajarkan kita untuk lebih belajar dan berusaha menggali keahlian kita, karena apabila kita sudah memiliki alat pancing, kapan pun kita ingin mendapatkan ikan maka bisa menggunakan alat pancing tersebut. Tetapi sebaliknya, apabila kita diberik ikan, maka setelah ikan itu habis dimakan kita tidak dapat mencarinya sendiri, harus menunggu pemberian orang lain.

***

Hidup memang perlu perjuangan, setelah dibina dengan berbagai macam ilmu pengetahuan mengenai dunia jurnalistik yang menerjang, dengan berbagai kendala yang menghadang. Beberapa tumbang,  dan 2 orang lain yang masih bertahan hingga kini menjadi bagian dari tim redaksi. Dimana kami terjun di dunia menulis berita dengan pelan-pelan, tanpa paksaan, penuh candaan, namun tetap profesional dimantapkan.

Di sinilah saya akhirnya tidak sekadar mengenal Irvan Hq, saya merasa sangat dekat dengannya karena sosoknya yang memang selalu mengundang perasaan siapa saja untuk dapat sangat dekat. Saya seperti menemukan kembali Sosok Ayah saya yang sudah lama hilang. Sosok Ayah yang baik, selalu tersenyum, suka menolong saudara dan membela teman. Ayah yang selalu menjaga silaturahmi.

Tidak heran begitu banyak anak muda di sekitarnya, macam-macam cara mereka memanggil sosok bernama Irvan Hq. Rata-rata orang memanggilnya dengan panggilan Kang, Kang Irvan. Tetapi saya lebih memilih memanggilnya dengan panggilan Om. Ya, saya memanggilnya Om Irvan.

Saya ingat betul tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 18 November 2016 saya mendapat kiriman Messenger berupa kartu pos dari Om Irvan yang sedang berada di Seoul, Korea Selatan. Didalam kartu pos tersebut Om Irvan menulis, “Untuk sampai kesini, saya tidak punya uang. Satu-satunya modal yang saya punya adalah : Do’a dan Kerja Keras.” Sebuah kejutan sederhana tetapi sangat mengena dihati.

Setelah bertemu dengannya, setelah kenal dekat, setelah bergabung di biem.co, apa yang selama ini saya dengar tentangnya sama sekali tidak meleset. Tak ada yang dilebih-lebihkah, memang begitulah adanya Om Irvan. Orang super baik yang sangat peduli kepada mimpi-mimpi anak muda. Wibawanya tidak membuat orang takut, sebaliknya membuat orang ingin terus ada di sampinya.

Untuk mendapatkan buku Tentang Orang yang Memasangkan Sayap Kecil di Pundak Para Pemimpi silahkan klik disini.

Belum pernah saya temui orang yang seramah, sesantun, dan seprofesional beliau. Begitu banyak decak kagum saya terhadap beliau. Ketikan di laptop usang ini tak mampu menjadi rumah yang tepat untuk mengungkapkan kekaguman itu. Sosoknya sering kali saya anggap sebagai sosok pengganti Ayah yang telah tiada. Ini seperti sebuah doa yang kembali terkabul. Saya memang merindukan sosok seorang Ayah dan saya mendapatkannya dari Om Irvan. (Red)

Tentang Penulis

Resti Meidiyani Dimyati – Perempuan lulusan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, jurusan Tadris Bahasa Inggris.

Editor: Yulia

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button