biem.co – Proses ilmu didapati melalui pembelajaran yang ketat, dengan susah payah kalau kata Imam Syekh al-Zarnuzi dalam kitab Ta’lim fenomenalnya. Mendapati buah ilmu menurut Hujjatul Islam dalam karya terakhirnya Minhajul Abidin—tentu dengan manifestasi sakral, dengan pengejawantahan nubuwah perintah agung, yaitu tak lain adalah ibadah, maka berbuahlah pohon ilmu itu dengan buah ibadah.
Kata Syekh Hisyam Kabbani yang dia nukil dari perkataan Syekh guru-gurunya beliau, pada esensi hakikatnya ilmu tidak dari akal kita, tidak bersumber dari buah pikir kita, tidak dari proses berpikir, melainkan langsung dari Allah Azza Wa Jalla melalui hatinya, karena itulah ada pepatah Arab “Al Ilmu Maa Fii Sshuduur Laa Fis Sutuur” (Ilmu itu apa yang ada di dada, bukan di tulisan).
Maka koheren pula dengan “Al ilmu Nuurun Wa Nuurullahi Laa Yuhda Lil ‘Ashi/ Ilmu adalah Nur/Cahaya dan (sumber) cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat. Oleh karenanya, para Rasul dan Nabi mewarisi manifestasi cahaya Allah, mereka menampungnya dan diwariskan pula oleh Ulama’. Tentu perkara waris mewaris ini tidak sembarangan. Mereka memiliki kapasitas wadah rohani yang jembar dan bening. Artinya mereka tidak hanya mengajarkan ilmu yang bening melainkan wadah cangkir yang bersih pula.
Kemudian ini disebut sebagai “Akal Nubuwah/Akal Kenabian. Ilmu yang diberikan oleh Ulama’/ Syekh/ Guru Pembimbing, tidak hanya berupa transformasi sanad riwayat, kadang juga “Bil Hal”, dengan perilaku, perilakunya adalah “sumur ilmu” yang juga dapat kita timba. Ketersambungan ini bisa saling berlangsung secara magis, sebagian orang menyebutnya sebagai “Rabithah”.
Dalam lughat, Rabithah berarti berkait-bertali-berhubungan. Namun dalam kamus Sufi Tarekat, Rabithah adalah menghubungkan ruhaniah murid dengan ruhaniah Guru. Kemudian hubungan ruhaniah ini menjadikannya sang murid terus diarahkan ketika menempuh perjalanan spiritualnya, tentu dengan jalan yang spesifik sesuai kadar kedudukan/maqamat muridnya
Pengarahan Sang Syekh/Ulama’ kepada muridnya ini tidak hanya berupa pengajaran langsung dengan transformasi referensi kitab yang ada, pengarahan ini tidak berupa itu saja, melainkan ketika sang murid nyaris mengalami kebuntuan dalam menempuh perjalanan spiritualnya, Rabithah ini secara bersamaan hadir membersamai dengan proses Sang Murid, mungkin boleh saya sebut “Nasihat-nasihat yang tak bersuara”.
Seperti pada tulisan pendek saya sebelumnya tentang perjalanan pengembaraan Sang Ulama’ kondang—Syekh Imam as-Sya’roni dari Mesir Ulama’ Sufi sekaligus pengarang al-Mizan al-Kubro yang masyhur itu, yang menimba sumur ilmu dari Syekh Ali al-Khawaz yang ternyata buta huruf, bahkan Syekh al-Khawaz menyuruh membakar semua kitab-kitab yang pernah dimilikinya. Maka darimana ia dapati itu kalau bukan dari Sumber Cahaya? Bagaimana bisa transformasi itu berlangsung jika tanpa rentetan sanad? Artinya, nasihat ilmu bisa juga didapat dengan cara yang magis, unik dan tak kalah otentik. Wallahua’lam~ (Red)
Muhammad Azka kelahiran Semarang 30 Agustus 1993, penulis mengabdi di Pesantren Addainuriyah Dua Semarang. Buku antologi puisinya berjudul Menunggu Di Jendela (Rumah Kayu Publishing, 2016), Antologi Wrangka (biem.co, 2018). Bisa dihubungi melalui email : lawakusa93@gmail.com, Instagram: em.azka, Facebook : Muhammad Azka.