Skriptoria

Muhammad Rois Rinaldi: Seseorang yang Terperangkap Pusat Semesta

biem.co – Seorang kawan datang. Ia seorang tokoh yang biasa mengisi acara seminar tentang cara menulis dan semacamnya. Kali ini ia datang membawa air muka yang memberi kesan panas. Kulitnya yang sawo matang tampak kemerah-merahan. Saya menduga, ia sedang jengkel atau belum usai dari amarahnya terhadap seseorang yang entah siapa. Mungkin orang yang saya kenal atau orang yang namanya pun sama sekali tidak pernah saya dengar. Selaju ia duduk, saya pamit ke dapur untuk membuatkan kopi. Tidak sama sekali saya berkehendak untuk menanyakan sesuatu, sebab biasanya ia akan mengatakan tentang orang yang membuat air mukanya sedemikian tegang tanpa ditanya.

Sebagai kawan, saya tak pernah menolak kedatangannya walau kadang saya tidak selalu siap menerima obrolan yang “penuh tekanan” justifikasi. Terlebih ia selalu saja ia menjebak saya untuk menganggukkan kepala saat ia mengatakan tidak menyukai seseorang lengkap dengar argumentasinya yang senantiasa terpusat pada posisi dan kepentingannya. Saya tahu model jebakan semacam itu, jadi saya tidak merasa takut, walau tetap ada perasaan khawatir, karena membicarakan kejelekan sesama manusia memang amat lezat di lidah napsu. Tidak peduli, pembicaraan itu benar-benar atas kejelekan seseorang atau diada-adakan agar dapat dibicarakan hanya untuk mendapatkan kelezatan.

“Saya dipermalukan!” ujarnya agak meninggikan suara tanpa terlebih dahulu memberi kesempatan kepada saya untuk duduk setelah meletakkan dua gelas kopi dan satu toples kue kering di meja.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

“Kamu tidak diminta duduk di kursi depan?”

“Itu sih sudah pasti. Pembicara sudah pasti duduk di kursi depan.”

“Lantas?”

“Rata-rata peserta seminar hanya minta tanda tangan pembicara yang satunya. Saya diabaikan. Panitia tidak berusaha mengendalikan keadaan agar kondisi terlihat seimbang.”

Saya tidak benar-benar bereaksi. Hanya menatap sepasang mata kawan saya itu dengan tatapan datar. Satu ingatan tiba-tiba menyeret saya ke suatu kejadian. Seorang kawan secara terang dengan bahasa tubuh yang menunjukkan kekuasaan dan kemenangan menceritakan bahwa ia baru saja menampar istrinya. Katanya, dia sangat marah karena tidak tahan dengan sikap istri yang tidak mempedulikan apa yang dipedulikan olehnya: tanaman hias di pot-pot yang telah ia rawat. Belum lagi, kata kawan saya itu, rumah mereka selalu berantakan. Teras sering becek karena istrinya tidak becus memeras pakaian sebelum menjemur.

Begitu kisah yang saya dengar dari kawan saya itu. Hampir-hampir saya kehilangan gairah untuk bicara. Bagi saya sikapnya aneh. Terlalu percaya diri atas apa yang ia pedulikan tanpa mempedulikan apa yang dipedulikan oleh istrinya. Jika suka menanam, pot-pot berisi tanaman itu adalah kegemarannya, orang lain tidak perlu dipaksa gemar atas kegemarannya. Orang-orang yang tidak gemar menanam akan merasa berat hati jika setiap hari harus mengurus tanaman. Jika baginya teras becek adalah masalah, mestinya ia yang mengelap. Bukan menuntut orang lain yang melakukannya, yang orang lain itu belum tentu memiliki cukup waktu dan tenaga untuk melakukannya. Tetapi kawan saya itu mendesak agar saya menanggapinya. Sebuah tanggapan yang saya curigai, sebetulnya tidak hendak dia dengar. Sepengalaman saya, sebagian besar orang jika sudah menceritakan sesuatu tanpa memunculkan rasa bersalah dari getar suara dan gerak tubuhnya, cenderung ingin didukung. Bukan sebaliknya.

“Kamu berpikir apa yang kamu pedulikan adalah yang juga harus dipedulikan oleh istrimu?”

“Pertanyaan macam apa itu? Sudah tentu harus!”

“Pernahkah kamu berpikir dan mengharuskan dirimu untuk mengetahui apa yang dipedulikan istrimu dan mengharuskan dirimu ikut mempedulikan apa yang dipedulikan istrimu?”

Ia tak menanggapi. Tidak mau menanggapi. Kopi diseruput. Biskuit dari toples kaca dikunyah. Sebatang rokok menyala di asbak disedot dalam-dalam.

“Apakah standarmu tentang apa saja harus menjadi standar istrimu?”

“Maksudmu?”

“Teras tidak boleh becek, sekalipun untuk keperluan mencuci. Itu standar yang kamu buat dan itu harus menjadi standar istrimu. Bukan begitu?”

“Jelaslah! Harus! Buat apa menikah kalau standar yang dibuat berbeda-beda.”

Mendengar ucapan tanpa getar keraguan dari kawan saya itu, ingatan saya melayang ke masa SMA. Waktu itu, kawan saya mau cari dukun pelet. Katanya, dia sakit hati. Kekasihnya memutuskan hubungan secara sepihak. Padahal, katanya, dulu perempuan itu yang mengejarnya. Setelah memilih gadis itu di antara sekian banyak gadis yang menginginkannya di sekolah, dengan gampang gadis itu minta putus. Kawan saya merasa sangat terhina. Dia merasa kepopulerannya sebagai siswa tampan dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Kecerdasannya yang juga populer menjadi tampak bodoh atau bahkan lebih dari sekadar bodoh. Karena itu, dia berniat mau memelet gadis itu dengan tujuan agar gadis itu tergila-gila lagi padanya. Setelah itu dia akan meninggalkannya. Katanya, agar gadis itu benar-benar jadi orang gila.

“Sebentar,” sergah saya dalam obrolan di warung belakang sekolah selepas jam pulang. “Seberapa yakin dia sengaja mempermainkanmu?”

“Apa namanya kalau bukan sengaja mempermainkan? Mati-matian dia meyakinkan saya untuk jadi pacarnya. Eh, sekarang, baru jalan tiga bulan, enak saja main putus sepihak.”

“Saya dengar, kamu terlalu mengatur kekasihmu itu.”

“Mengatur bagaimana?”

“Bila kamu menelepon, harus segera diangkat. Kamu tidak suka jika kekasihmu membalas SMS terlalu singkat. Kamu tidak suka jika waktu kekasihmu lebih dihabiskan bersama teman-temannya melebihi waktu yang dihabiskan bersamamu. Bukan begitu?”

“Itu normal! Saya peduli padanya. Saya sungguh-sungguh mencintainya.”

“Kamu tidak sedang bersikap sebagai orang yang mencintainya, melainkan orang yang memaksa orang lain untuk menjadi budak dari gairah bercintamu.”

“Sebentar!” sergah kawan saya, tak terima.

Di kepala saya tiba-tiba ada suara lain yang tidak seberapa saya kenal walau terasa sangat akrab. Suara itu, suara pikiran saya yang sesekali sangat menyenangkan dan sesekali terlampau menjengkelkan. Ia berkata bahwa jika seorang manusia tidak mewaspadai dirinya sendiri, tanpa disadari ianya telah dijangkit penyakit “perasaan sebagai pusat semesta”. Penyakit yang membuat seseorang merasa bahwa segala apa yang ada, hidup, tumbuh, atau bergerak, harus sebagaimana pikirannya. Bila ia melakukan sesuatu, semua orang harus melakukan sebagaimana yang ia lakukan. Termasuk bagaimana pikiran yang tepat sebelum melakukan sesuatu. Jika tidak, ia akan menggiring pikirannya bahwa itu suatu kesalahan. Kesalahan besar. Jika pikirannya ditentang, ia akan murka.

Hingga detik ini, pusat semesta yang sesungguhnya masih menjadi persoalan. Misal teori yang paling dikenal di masa kini, ledakan big bang. Sebagian orang mengimajikan ledakan itu semacam satu batu terpecah lalu semesta ada. Dengan kata lain, bermula pada suatu pusat. Sementara itu, citra yang sesungguhnya ingin dihadirkan melalui teori yang pertama kali dicetuskan oleh fisikawan Rusia, Friedman pada tahun 1922 adalah evolusi awal alam semesta dari kondisi yang sangat panas dan padat kepada kondisi yang sekarang penuh galaksi dan bintang-bintang. Posisi benda-benda yang mengalami pemuaian (ledakan yang dimaksud adalah meratanya proses pemuaian di alam semesta secara bersamaan), tidak hanya pada satu titik. Gas yang mengemisikan radiasi terdistribusikan secara seragam di seluruh penjuru alam. Dengan kata lain, pusat semesta tidak ada. Satu kesatuan segala apa yang ada itulah yang disebut “alam semesta”.

Mengingat omongan pusat semesta di kalangan ilmuan dan citra di masyarakat umum itu, sering membuat pikiran saya tertawa. Bagaimana tidak, semesta saja tidak hendak memiliki pusat, tapi manusia seringkali berebut memosisikan diri sebagai pusat semesta di antara sesama manusia. Sulit dibayangkan jika seorang manusia ingin selalu menjadi pusat perhatian, ingin selalu menjadi yang paling didengar, atau merasa bahwa pikiran dan perasaannya wajib diperhatikan secara sungguh-sungguh. Lebih sulit lagi untuk dibayangkan ketika semua itu diikuti oleh omongan, “ini saya lakukan karena saya peduli”, “saya melakukan ini karena saya mencintaimu”, “kamu tidak mengerti bahwa apa yang saya lakukan adalah yang terbaik untuk kita”, dan semacamnya.

Pertanyaannya, bagaimana seseorang disebut peduli pada orang lain, terlebih orang yang dikasihi dan disayangi, jika ia hanya mempedulikan segala hal yang ada di dalam dirinya sendiri? Bagaimana seseorang dikatakan mencintai, sementara ia menuntut segala sesuatu yang hanya “penting” bagi kebahagiaan; hasrat percintaan sendiri tanpa mencintai kenyamanan, kebahagiaan, bahkan hak orang yang dicintainya? Bagaimana seseorang dapat dipercaya benar-benar melakukan sesuatu untuk kebaikan bersama ketika semua yang hal dilakukan hanya atas dasar pikiran dan perasaannya?

Begitulah suara pikiran saya bergerak sebagaimana bergeraknya ingatan kembali kepada kawan saya yang marah kepada panitia karena saat dia menjadi panelis di suatu acara, pembicara lain rupanya tampak lebih diperhitungkan oleh audiens. Ia mengukur hal tersebut dari seberapa banyak orang yang meminta berfoto dengannya setelah seminar usai. Saya yang duduk di kursi yang menghadap ke timur dan ia yang duduk di kursi yang menghadap ke Selatan, bertatapan. Mulutnya terus bergerak dengan marah.

“Saya tidak sudi lagi mengisi acara mereka! Dasar anak-anak muda tidak punya adab. Tidak paham bagaimana menghormati pembicara.”

Saya tidak menanggapi secara serius. Toh, lelaki yang selalu membicarakan capaian dan kehebatannya itu tidak mendesak saya untuk menanggapi sebagaimana kawan saya yang dengan bangga menceritakan penamparan yang ia lakukan kepada istrinya itu. Setiap kali ia mengumpat sambil mengatakan betapa penting keberadaannya sebagai manusia, saya seperti melihat segaris benang jaring laba-laba melingkari tubuhnya. Ia sangat banyak bicara, tubuhnya sudah penuh sarang laba-laba dan dia terus menciptakan perangkap untuk dirinya sendiri dengan prasangka terhadap dirinya sendiri sebagai pusat semesta. Perasaan saya tergelitik. Ada yang lucu. Saya ingin tertawa, tapi takut terperangkap. (red)

Tentang Penulis

Muhammad Rois Rinaldi, Pemimpin Redaksi biem.co.

Editor: Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button