KOTA SERANG, biem.co — Idealnya, dunia tulis menulis bukan barang asing bagi akademisi. Akademsii juga harus rajin mempublikasikan agar karya tulisnya bisa diketahui publik.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Litbang Kependudukan LIPPI Jakarta, Herry Yogaswara saat berbincang di sela-sela acara Workshop Penulisan dan Publikasi Karya Ilmiah bagi Dosen dan Mahasiswa yang diadakan Pendidikan Sejarah FKIP Untirta, Rabu (6/10/2021).
“Pilihannya ada dua, publish or perish. Artinya, akademisi harus rajin mempublikasikan hasil karya tulis atau karya ilmiahnya, jika tidak maka akan busuk dan hancur sia-sia serta dilupakan begitu saja,” ungkap Herry.
Menurutnya, karya tulis atau peneliatian itu tentu saja harus berkualitas dengan didukung data yang akurat. Jika tidak, maka karya tulis itu juga hanya akan menjadi sampah. Singkatnya hasil karya tulis seseorang menggambarkan kualitas penulisnya itu sendiri.
Herry menilai, acara Workshop Penulisan dan Publikasi Karya Ilmiah bagi Dosen dan Mahasiswa yang diadakan Pendidikan Sejarah FKIP Untirta sangat baik dan perlu digelar secara berkala.
Sebab melalui acara seperti ini kata dia, kualitas penulisan dosen dan mahasiswa akan terasah.
“Ini salah satu upaya meningkatkan kualitas tulisan dan publikasi dosen dan mahasiswa Untirta. Bagi akademisi workshop seperti ini penting untuk mempertajam analisis tulisannya,” terang Herry.
Baca Juga: Pendidikan Sejarah FKIP Untirta Adakan Workshop Karya Ilmiah
Menurutnya, acara seperti ini juga untuk mengukur kemampuan akademis dosen dan mahasiswa. Melalui acara inilah akan tercipta ruang kolaborasi literasi dan akademis.
Karya Tulis dan Sejarah
Sementara Dekan FKPI Untirta, Dase Erwin Juansah saat membuka acara Workshop Penulisan dan Publikasi Karya Ilmiah bagi Dosen dan Mahasiswa mengatakan, peningkatan kualitas tulisan dan publikasi menjadi hal yang sangat penting.
Menurutnya, karya tulis tentang sejarah khususnya, akan sangat membantu masyarakat secara umum. Terlebih pengetahuan masyarakat tentang sejarah, sejauh ini lebih didominasi oleh cerita lisan.
“Nah, dengan karya tulis ilmiah yang terpublikasi, baik itu dalam bentuk jurnal atau buku, masyarakat umum akan tahu sejarah yang didasarkan oleh fakta-fakta. Di Bayah, Lebak Selatan misalnya, ada sejarah kelam tentang Romusha. Masyarakat umumnya memang tahu, namun hanya dari cerita orang tua,” terang Dase.
Dase juga menerangkan, di Banten sumber atau bahan yang bisa dijadikan karya tulis, seperti skripsi sangat banyak. Karenanya dia menyarankan, mahasiswa Pendidikan Sejarah yang akan menyusun skripsi hendaknya mencari bahan di Banten.
“Jangan khawatir, ahli sejarah yang diakui secara nasionakl bahkan internasional di Banten ini ada. Ini ada Pak Dr. Ali Fadillah. Jadi saya rasa, Banten ini sangat kaya akan sejarah,” pungkasnya. (*)