biem.co – Sobat biem, kondisi politik di Myanmar pasca kudeta yang dilakukan Militer sejak 1 Februari 2021 lalu kian hari kian memanas.
Saat ini situasi di sana semakin berbahaya pasalnya personel militer mulai dilibatkan dan diizinkan menggunakan senjata api untuk melawan massa aksi antikudeta. Imbasnya, banyak warga ditangkap atau dibunuh oleh Militer Myanmar.
Menurut laporan PBB, pada unjuk rasa Rabu lalu, 38 orang tewas ditembak Militer Myanmar. Hal itu menjadikan total korban jiwa selama kudeta berlangsung 50 orang.
Sementara itu, untuk orang yang ditangkap, jumlahnya sudah mencapai 500 lebih menurut Asosiasi Bantuan Hukum untuk Tahanan Politik.
Merespons situasi yang terjadi, Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener mengungkapkan pihaknya telah berbicara melalui telepon dengan Wakil Panglima Militer Myanmar, Soe Win.
Dalam percakapannya dengan Soe Win, Burgener memperingatkannya bahwa junta militer akan menghadapi tindakan keras dari dunia internasional sebagai pembalasan kudeta yang berlangsung.
Namun jawaban mengejutkan diterima Burgener dari Win saat itu. Win menjawab bahwa militer Myanmar sudah terbiasa mendapatkan sanksi.
“Mereka menyatakan sudah terbiasa dengan sanksi dan selalu bisa bertahan,” katanya, dikutip dari Channel News Asia.
Burgener menambahkan, dirinya pun sudah memperingatkan bahwa komunitas internasional bisa saja mengucilkan Myanmar ke depannya.
Lagi-lagi, kata Burgener Myanmar tetap bertahan pada keputusannya untuk melanjutkan kudeta dan mengakhirinya ketika pemilu baru sudah digelar.
“Ketika saya memperingatkan soal kemungkinan Myanmar diisolir dari komunitas internasional, mereka menjawab lebih baik bertahan dengan sedikit teman,” tandasnya menjelaskan respons dari Militer Myanmar. (Eys)