Cerpen

Cerpen Imat Albantani: Annisa

biem.co — Angin yang menyingkap genting-genting masjid itu seperti kibasan kerudung merah jambu; gadis yang selalu menundukkan kepalanya setiap kali berpapasan denganku di lorong masjid itu, memang telah semacam teror; membuntuti setiap gerakku sejak kali pertama sepasang mataku tertegun pada juntaiannya lalu terperosok di sepasang matanya. Bintang berkelipan di langit seperti binar matanya atau lebih dari sekadar binar bintang, karena sepasang mata teduh itu memiliki daya denyar yang dahsyat. Itu yang selalu gagal kucitrakan.

Di antara hilir mudiknya kenangan bersamanya, semua hal yang dapat kugambarkan tentangnya, ada pertanyaan yang semakin mendesak: “Kapan Nisa datang?”

Jam tanganku menunjukkan pukul 20.00. Angkutan umum, ojeg, dan orang-orang terus berlaluan dan terus berlaluan. Semuanya tidak memperdulikan lelaki yang duduk dengan kegelisahan memuncak ini.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

***

Aku tak berani berhadapan dengan perempuan. Menatap mata perempuan seperti menatap mata singa. Aku gugup, gemetar, dan keringat dingin mengucur dari tubuhku. Begitulah. Betapa kedernya lelaki ini setiap kali berhadapan dengan seorang perempuan. Tetapi waktu bergerak dan aku yang kinyis-kinyis beranjak menjadi seorang jejaka yang setidaknya memiliki sedikit keberanian lebih untuk melirik perempuan.

Entah karena sebagai anak kuliahan pengetahuanku tentang hubungan percintaan semakin luas, kegelisahan diri tentang keberadaan seorang lelaki yang tidak mungkin sanggup hidup bahagia tanpa seorang perempuan di sisinya atau karena teman sekelasku itu yang menyeretku sampai terjerembab ke dalam pesonanya.

Gadis itu cantik. Cantiknya sederhana. Cantik yang sederhana itu, seperti melihat daun dikecupi embun pada pagi buta. Aku tidak digoda birahi melihat tubuhnya yang ramping dan tidak belingsatan ketika ia bicara; ketika bibirnya yang merah tanpa lipstik seperti mawar yang sedang mekar-mekarnya. Aku hanya merasakan satu hal: nyaman.

Teman-teman di kelas memanggilnya Nisa. Aku memanggil dia, Annisa. Orang-orang mungkin memanggil dengan panggilan Nisa saja agar lebih ringan di bibir, tapi aku lain. Aku ingin menyebutnya dengan berat sekali, dengan sangat pelan: An-ni-sa; A… n … i … s … a. Karena aku sangat menikmati detik-detik ketika menyebut namanya. Kubiarkan setiap huruf seperti anak-anak sungai mengalir ke samudera jiwaku. Lembut sekali selembut Annisa itu sendiri. Jika bicara, nadanya rendah sekali. Tetapi di balik nadanya yang rendah itu, ia perempuan yang kuat, sekuat aliran asmara yang bergejolak di dalam diriku Ya, di balik kelembutannya, ia seorang penggerak massa. Ia sering turun jalan jika ada tragedi, semisal tragedi Palestina.

Aku sebatas suka. Jarang menyapanya, selain hanya sesekali senyum ketika tidak sengaja berpapasan dengannya. Annisa terlalu populer, bisa-bisa aku ditertawakan oleh orang satu kampus kalau berani mendekatinya. Tetapi sebagai lelaki yang mulai sadar bahwa aku sudah jatuh cinta, aku tidak sanggup melawan gejolak perasaanku sendiri. Jadi nekat saja aku putuskan untuk mendekatinya.

***

“Sudah lama menunggu?”

Aku terperanjat, tapi dengan segera aku menguasai diriku. Aku menggeser posisi duduk, merapikan rambut dengan telapak tangan kanan, agar Nisa tak melihatku seperti orang linglung yang kelelahan. Tetapi sepertinya itu percuma, aku yakin Annisa tahu bahwa beberapa bulan ini aku kacau sekali.

“Maaf aku terlambat,” ujarnya lagi.

Sepertinya Annisa terpaksa menemuiku. Tatapan mata itu asing bagiku. Aku tak menemukan sosok yang telah lama kukenal di sana.

“Mengapa Annisa tidak mau bersalaman denganku?” batinku terperanjat sesaat aku menyadari, sedatangnya ia tadi, ia tidak sama sekali bersalaman denganku. Ia juga duduk sangat dari dariku. Di kursi panjang seberang masjid kampus, ia duduk di ujung utara, aku di ujung selatan. Kekakuan ini benar-benar membuatku jengkel, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak dapat memaksa Annisa untuk tidak memperlakukanku seperti memperlakukan orang asing.

“Daus,” Nisa menatap mataku, “kamu baik-baik saja?”

“Tidakkah semestinya aku yang bertanya begitu, Annisa?”

Kami sama-sama diam. Langit malam tanpa gagak, tapi terasa ada yang menjerit di kegelapan sana. Annisa menundukkan kepala, tanpa suara, sementara kau tengadah mencari-cari suara. Aku merasa aka nada yang hilang dari pelukan dan itu adalah sesuatu yang paling berharga di dalam hidupku.

“Annisa, katakan kepadaku, kau tidak berencana meninggalkanku, kan?”

Annisa menatapku, ia tersenyum lalu beranjak.

Tidak! Aku tidak boleh membiarkan Annisa pergi. Dia sudah membuatku jatuh cinta. Dua tahun aku membangun mimpi. Aku ingin berumah tangga dengannya; memiliki anak-anak yang manis dan lucu dari rahimnya. Tidak! Mimpi itu tidak boleh begitu saja diruntuhkan dalam hitungan detik.

Aku berusaha menghalanginya. Di hadapannya kubentangkan tangan. Matanya melotot. Ia terlihat sangat terganggu. Sangat marah. Tetapi apa peduliku? Aku juga berhak marah. Aku berdiri tegak di depannya seperti serdadu berani mati di hadapan laras panjang. Ah, sudahlah orang kasmaran akut bahkan dapat merasa lebih gila dari sekadar pengandaian yang buruk itu.

“Minggir, Daus!” bentaknya.

“Jangan perlalukan aku seperti ini!” suaraku bukan seperti suara orang marah, lebih seperti orang memelas. Aku pikir ini terlihat sangat lemah, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana mengendalikan rasa takut di dalam diriku. “Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku mencintaimu.”

“Daus!” suaranya lebih keras dan melengking. Matanya dibuka selebar-lebarnya. Kontras sekali dari sepasang mata Annisa yang aku cinta. “Itu bukan cinta. Itu napsu setan!”

Tubuhku tiba-tiba lemas. Ia pergi. Aku menundukkan kepala. Entah berapa jam aku berdiri di situ. Entah berapa lama. Aku meninggalkan tempat itu dengan tertatih-tatih setelah suara tarhim mengguncang kesadaranku.

***

Teruntuk Akhi Firdaus Az-Zukhruf

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Setelah Akhi membaca surat ini, ana tak ada di kota ini. Mohon jangan berusaha mencari atau menanyakan keberadaan ana, karena itu sia-sia. Maafkan ana Akhi, karena ana mengecewkan hati akhi. Semua ini ana lakukan karena ana sadar bahwa hubungan kita selama ini didasari hawa nafsu belaka. Memang tidak mudah melupakan apa yang telah kita lalui selama ini. Karena sifat perasaan manusia yang lemah dan mudah kalah oleh harapan-harapan kosong yang berlandaskan pada napsu itu.

Ketika kita dahulu saling mencintai dan melakukan hal yang tidak disukai oleh Allah, itu semata-mata karena ana khilaf. Jika akhi benar-benar mencintai ana, berbahagialah dengan setiap pilihan yang ana ambil, termasuk pilihan untuk kuliah di kota lain yang tidak pelu akhi ketahui. Percayalah, cinta yang selama akhi pahami adalah cinta yang fana. Akhi… ana harap akhi paham.

Apabila jodoh, Allah akan mempertemukan kita di suatu hari nanti. Teruslah berdoa, semoga ana dan akhi dipertemukan dalam ikatan yang diridhoi Allah.

Surat ini ana tulis dengan harapan terbaik untukmu.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Annisa Suciwati

Surat itu aku baca di kamar, dalam keadaan menggigil. Demam yang menderaku selama dua hari, setelah hari pertemuan itu, terasa semakin parah. Terbayang perempuan yang dahulu membuatku jadi sering ke perpustakaan hanya untuk mendekatinya. Terbayang cinta yang tumbuh di antara sela-sela rak dan buku. Terbayang bagaimana aku berbulan-bulan mencuri pandang, megangumi rona wajahnya yang begitu bening. di sana, sampai akhirnya ia mau menatapku. Bayangan-bayangan itu tiba-tiba berubah jadi godam, menghantam kepalaku. Mataku berkunang-kunang. Tanganku meraih-raih obat penghilang rasa sakit di meja kecil, di samping kasurku, tapi tiba-tiba lampu lima watt meredup lalu padam.

“Gelap sekali, Tuhan!” pekikku.

***

“Annisa, kaukah itu?”

“Iya, Daus. Ini aku. Annisa. Perempuan yang membuatmu mengenal cinta lalu menghancurkannya.”

“Aku tidak percaya. Benarkah itu kau?”

“Iya, Daus. Benar. Ini aku. Annisa!” (*)


Tentang Penulis:

Imat Albantani Kesehariaanya adalah seorang guru di SDIT Raudhatul Jannah, Cilegon. Ia mencintai dunia sastra sejak masih kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten. Karya berupa Puisi Jawa Banten dimuat Majalah Roemah Cikal, beberapa antologi  Haiki Warna-warni Lituli, Sabda Alam, Sang Pembuka, Membaca Zaman dan antologi cerpen Kenanga.

Editor: Yulia

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button