KOTA SERANG, biem.co — Puluhan mahasiswa Kota Serang melakukan aksi refleksi satu tahun kepemimpinan Aje Kendor di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 30 (depan kampus 1 UIN Banten), Rabu (4/12/2019) malam.
Dalam aksi refleksinya mahasiswa meyalakan lilin dan tabur bunga sebagai bentuk kegagalan Aje Kendor selama satu tahun memimpin Kota Serang. Sebab, banyak persoalan-persoalan lingkungan yang tidak bisa diselesaikan oleh mereka berdua.
Koordinator aksi, M. Ridho, mengatakan bahwa di bawah kepemimpinan Syafrudin-Subadri, Pemkot Serang masih tetap tidak berdaya melawan pengusaha-pengusaha yang merugikan lingkungan, contohnya para pengusaha ayam. Padahal, dalam RTRW Kota Serang, tidak memperbolehkan kandang ayam beroperasi.
“Jadi harusnya 2010 Kandang Ayam dilarang di Kota Serang (red-di Kecamatan Curug). Ternyata dapat kompensasi atau disinsentif 5 tahun persiapan sebelum pindah. 2015, dapat disinsentif lagi sampai 2019. Dan Tahun ini harusnya sudah persiapan pindah. Eh malah dapat disinsentif lagi,” ujarnya di sela aksi.
Selain itu, Ia mengatakan bahwa kekumuhan di Kota Serang hingga kini masih ada. Menurutnya, Pemkot Serang telah gagal untuk menyelenggarakan permukiman dan perkotaan yang nyaman bagi warganya.
“Pemkot juga gagal menyosialisasikan pengelolaan sampah ke masyarakat. Sampah banyak menumpuk dimana-mana membuat drainase dan sungai yang ada di Kota Serang tersumbat. Adapun Kegiatan sosialisasi yang ada, hanya dijadikan seremonial semata,” tegasnya.
Masalah kekeringan di Kasemen yang berlarut-larut pun menjadi sorotan mereka. Ridho menuturkan, Pemkot Serang gagal menyediakan air bersih bagi warganya. Sehingga, sebagian warga Kasemen sepanjang tahun harus membeli air. Sedangkan PDAB Tirta Madani tidak sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Belum lagi penataan Kota yang makin tidak jelas.Tidak memiliki grand design tata kota. Sehingga yang ada semakin semerawut,” tuturnya.
Ia mengibaratkan kepemimpinan Syafrudin-Subadri seperti lilin yang menyala. Ia menjelaskan, lilin pada awalnya menyala terang dan menjulang tinggi. Namun semakin lama, lilin tersebut akan semakin pendek dan padam.
“Makanya, kami sengaja membakar puluhan lilin sebagai refleksi bahwa Aje Kendor saat ini hanya tersisa kendornya saja,” tandasnya. (*/iy)