Kabar

Syafrudin: Masjid Harus Jadi Tempat Pengembangan Pendidikan Non Formal

KOTA SERANG, biem.co – Masjid dan musala diharapkan tidak hanya sebagai tempat peribadatan, melainkan dijadikan untuk tempat pengembangan pendidikan non formal, serta tempat yang ramah anak.

Demikian disampailkan Wali Kota Serang, Syafrudin usai menghadiri tasyakuran Masjid Al-Ittihadul Athar di Kecamatan Kasemen, Sabtu (2/11/2019) malam.

“Masjid dan musala harus menjadi tempat pendidikan nonformal, seperti belajar mengaji, maupun belajar-belajar lainnya. Maka dari itu masjid harus menyediakan tempat tersendiri, untuk dijadikan sebagai pojok literasi, baik literasi umum maupun keagamaan,” ujarnya kepada awak media.

Syafrudin melanjutkan, hal tersebut dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat, untuk dapat membaca buku usai melaksanakan ibadah salat.

“Jadi nanti misalnya, anak-anak usai melaksanakan salat, itu bisa ke perpustakaan yang disediakan oleh masjid. Mereka nanti bisa baca buku-buku yang bukan hanya keagamaan saja, melainkan buku-buku umum juga. Jadi budaya literasi masyarakat jadi meningkat,” ucapnya.

Ia juga meminta kepada pengurus masjid untuk dapat menyediakan tempat khusus untuk anak-anak.

“Kami berharap, di masjid ini ada semacam ruang publik untuk anak-anak. Supaya nanti anak-anak ini ada tempatnya tersendiri untuk bermain. Mau nanti tempatnya di luar, atau dimana saja. Agar ramah anak,” tuturnya.

Tanggapi wacana dari Wali Kota Serang, pegiat literasi Kota Serang, Abdul Salam, mengapresiasi wacana tersebut.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan langkah yang bagus untuk meningkatkan budaya literasi.

“Jika Pak Wali ingin mengadakan semacam pojok baca atau pojok literasi di masjid, itu langkah bagus,”ujarnya sat dihubungi via WhatsApp.

Abdul Salam menegaskan untuk melancarkan ide tersebut, dirinya menyarakan untuk direncanakan dan dibuat sematang mungkin agar tidak mubazir.

“Yang penting harus dibuat dasarnya apa? Pengelolaannya nanti akan seperti apa? Jangan sampai masjid hanya (menjadi) tempat menaruh buku, lalu dibiarkan begitu saja tanpa ada pengelola,” tukasnya. (*/iy)

Editor: Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button