biem.co — Selama ini, kita sangat meyakini bahwa hanya anak berperingkat di sekolah-lah yang bisa dikatakan pintar. Sehingga anak-anak yang tak begitu bagus secara akademis, seringkali dipandang sebelah mata. Padahal kecerdasan banyak bentuknya. Banyak penelitian yang membuktikan tentang kasus ini.
Seperti dilansir dari Tirto, H. Gardner dalam karyanya ‘Intelligence Reframed: Multiple Intelligences (1983)’, kecerdasan terbagi ke dalam 9 jenis, yaitu:
Pertama, kecerdasan logika matematika yang terdiri dari kemampuan berhitung, memahami proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan persoalan matematika.
Kedua, kemampuan linguistik yang meliputi pengelolaan kata, cara berpikir dan penggunaan bahasa.
Selanjutnya, yang ketiga ialah kecerdasan spasial adalah jenis kecerdasan, dimana seseorang yang memiliki kecerdasan ini memiliki kemampuan berpikir tiga dimensi, yaitu daya khayal ruang bidang, penalaran spasial, manipulasi gambar, keterampilan grafis dan seni.
Baca Juga
Pernah heran kenapa seseorang dapat mahir dua sampai empat alat musik sekaligus? Karena dirinya mempunyai kecerdasan musik. Kecerdasan yang berada di urutan keempat ini, yakni kapasitas seseorang membedakan nada, ritme dan timbre.
Tipe kecerdasan kelima ialah kinestetik. Anak dengan kecerdasan ini biasanya lebih aktif bergerak, mahir di olahraga atau tari.
Jenis keenam adalah kecerdasan naturalis, yakni ketika anak peka dan menyayangi alam, manusia, hewan, dan tumbuhan.
Selanjurtnya, ketujuh kecerdasan inter-personal. Seseorang dengan kecerdasan ini adalah ia yang lihai berinteraksi, gemar aktif di dunia sosial dan memiliki banyak kawan.
Kecerdasan kedelapan yaitu kecerdasan intra-personal. Dimana anak dengan tipe kecerdasan ini mampu membuat gagasan untuk menyusun arah hidup. Individu tipe ini ditandai dengan mereka yang senang menyendiri dan berpikir. Mereka punya kapasitas untuk memahami diri sendiri.
Terakhir atau yang kesembilan adalah kecerdasan eksistensial, memiliki kepekaan terhadap hal-hal mendalam seperti asal-usul, keberadaan manusia, arti hidup, kematian dan proses semesta. Mereka berpotensi menjadi filsuf, pemuka agama, atau ilmuwan.
Anak Anda Berhak Unggul dengan Tipe Kecerdasannya
Pola pikir orang tua dan masyarakat yang meyakini bahwa pintar adalah mereka yang mendapatkan peringkat di sekolah adalah pikiran yang sudah usang dan harus dihindari. Tekanan-tekanan tersebut membuat anak stres dan kurang bisa menerima kegagalan. Lebih parahnya, potensi anak tak akan dapat ditemukan dan tak terasah.
“Tekanan-tekanan tersebut bisa membentuk standar tinggi bagi anak, sehingga mereka kurang bisa menerima kesalahan kecil atau kegagalan,” ungkap Jane Cindy Linardi, Psikolog dari RS Pondok Indah.
Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengevaluasi kemampuan anak melalui tes kemampuan kognitif anak. Dari hasil tes tersebut, orang tua dapat memilih tipe sekolah yang cocok dan memberikan les tambahan untuk mengasah bakatnya.
Jane menambahkan pedoman pada orang tua untuk menghindari marah saat mereka gagal sambil terus memotivasi mereka.
“Jika mereka gagal, hindari marah apalagi memaki. Orang tua harus menghargai hasil jerih payah anak, sambil tetap memotivasi mereka. Bantu anak dalam proses belajar dengan memahami kesulitan anak, ikut mempelajari, kemudian jelaskan dengan cara dan bahasa yang mudah dipahami anak,” terangnya. (rai)