JAKARTA, biem.co — Konser musikal puisi-puisi cinta bertajuk ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’ yang akan menampilkan Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa, menggambarkan awal mula sebuah penciptaan; kata.
Kata-lah, yang membuat kita mengenal dunia. Lalu muncul manusia pertama, yang pengetahuan pertamanya adalah memahami nama-nama (yakni bahasa). Maka manusia pertama itu, sesungguhnya orang yang memahami bahasa. Ia adalah penyair pertama di surga.
Lalu ia mengenal cinta, ia kesepian tanpa cinta. Dan munculah perempuan, sang kekasih. Keduanya menjadi sepasang kekasih pertama di surga. Mereka ingin mencintai dengan sederhana, tapi cinta memang tak pernah sederhana, hingga sepasang kekasih itu kemudian turun ke dunia: Menyaksikan senja pertama di bumi, saling mencintai dan berpisah.
Di dunia, sang laki-laki menjadi seorang penyair yang mencintai seorang perempuan, yang juga mencintai sepenuh hati tetapi ragu. Si penyair merindukan kemerdekaan, tapi apa arti kemerdekaan tanpa cinta? Seperti dalam sajak Rendra: “Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!”
Penyair itu memperjuangkan cintanya. Tapi cinta mereka tak pernah sederhana. Kerinduan dan kesedihan seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Maka Kau adalah mata, aku airmatamu. Sampai suatu kali, perempuan itu ditangkap, karena dituduh berdosa, dan kemudian meninggal dunia.
Penyair itu sedih kehilangan perempuan yang dicintainya. Ia sering muncul di kuburan. Di sinilah kelucuan dan ironi muncul: Mencintai ternyata juga harus sanggup menanggung kepedihannya. Kata-kata harus diperjuangkan, begitu juga cinta. Meski tak pernah sederhana.
Kemudian si penyair ditangkap, dimatikan: Inilah nasib getir si penyair. Tapi semua itu justru membuat penyair menemukan kekuatan dan mengalami pengalaman spiritual yang membebaskan. Dalam adegan pembakaran, ketika tubuh penyair dimasukkan ke dalam api berkobar, ia tetap yakin: Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Dan ia pun menjadi semakin menemukan nilai spiritual. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan, Begitu, cinta, meski tak sederhana, membuat penyair itu menemukan kemerdekaannya, juga cinta indahnya, cintanya pada Tuhan. Ini adalah gambaran perjalanan spiritual manusia modern, yang menemukan pencerahannya.
Konser musikal ini akan berlangsung mulai hari ini hingga esok hari di Teater Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. (hh)