Oleh Muhammad Rois Rinaldi
(Pembicara Diskusi Dunia Sastra dan Sastra Dunia, Banda Fiesta 2018)
biem.co — Menjelang acara Banda Fiesta 2018 yang diselenggarakan oleh PSBNS (Persatuan Sastrawan dan Budayawan Serumpun) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah di Banda Neira, banyak yang bertanya, mengapa kegiatan sastra yang diisi oleh perwakilan sastrawan dari berbagai negara Asia Tenggara dilaksanakan di Banda Naira? Tidakkah lebih bemanfaat jika dilaksanakan di pusat perkotaan yang sememangnya sudah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan besar agar mendapatkan respon dan manfaat yang lebih luas? Bukan di tempatkan di sebuah pulau terpencil yang membutuhkan waktu tempuh 6 jam perjalanan menggunakan kapal cepat dari Ambon.
Pada mulanya saya tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut secara jelas, karena saya pribadi hanya tahu bahwa kami (saya dan pengisi acara lainnya) diminta mengisi pelatihan dan diskusi untuk membangun nilai-nilai kesusastraan di Banda Naira. Belum terbayang sama sekali bagaimana, seperti apa, siapa saja yang kami hadapi, dan persoalan-persoalan lain yang berada di sekitaran pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan kata lain, saya sendiri masih menduga-duga dalam sedikit pengetahuan bahwa di sana akan menemui masyarakat yang berada di sebuah pulau yang menyimpan bukti-bukti sejarah Nusantara. Tetapi apa kaitan antara sejarah yang dirawat oleh Banda Naira dengan pergerakan kesusastraan yang membawa tema “Dunia Sastra dan Sastra Dunia”, saya belum sungguh-sungguh menemukannya.
Sesampainya di Banda Naira, perlahan-lahan saya mengerti mengapa PSBNS mengantarkan jejak langkah para sastrawan yang didatangkan dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, ke pulau pembuangan Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Cipto ini. Karena di sini, sudah terlalu banyak yang menyentuh. Orang-orang dari Barat telahlah berdatangan. Orang-orang dari penjuru Nusantara juga telah berdatangan. Masing-masing datang untuk keterpukauan terhadap sejarah Banda Naira yang agung, untuk sekadar menemui kesunyian gelombang laut terdalam di dunia, untuk menghirup langsung aroma fuli dan pala yang melegenda, atau tidak untuk apapun.
Tetapi di antara yang berdatangan tersebut, di sebuah tempat yang harus menjaga, merawat, dan mengabarkan suatu narasi sejarah, ada yang belum ada; ada yang belum sungguh-sungguh tiba; ada yang belum mengejawantah, yakni sastra. Meski buku-buku yang berbicara tentang Banda Naira terus dicetak, namun sastra belum membumi sebagai hak milik masyarakat Banda Naira. Mereka yang sesungguhnya sebagai para pewaris yang harus merawat apa yang masih ada, memastikan catatan-catatan yang dicetak adalah catatan yang benar-benar lahir dari rahim Banda Naira, sudah semestinya dekat dengan kesusastraan: budaya kritis dan menulis.
Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kesusastraan harus hadir sebagai jiwa, sebagai nilai yang tumbuh di tengah masyarakat Banda Naira. Tugas masyarakat Banda Naira bukan hanya menjaga bangunan-bangunan peninggalan sejarah, melainkan juga harus menjaga kisah-kisah yang bertebaran di muka bumi agar tidak menjadi kisah-kisah bohong yang pada akhirnya dianggap sebagai kebenaran. Tugas itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang-orang yang hidup di luar Banda Naira, karena hidup, kehidupan, dan persoalan-persoalannya terus bergerak dan berkembang setiap waktu.

Kesusastraan yang dapat mendidik mansua menjadi masyarakat yang logis, kritis, dan beradab juga dapat menjadi penangkal dari kemungkinan-kemungkinan terjadinya eksploitasi masyarakat untuk kepentingan agenda-agenda kebudayaan, kepariwisataan, atau bahkan kemanusiaan yang didatangkan ke Banda Naira, baik yang didatangkan oleh pemerintah negaranya yang sendiri—yang hingga kini belum menemukan bentuk dan wajahnya sendiri—atau dari negara-negara di luar Indonesia—yang tidak dapat dipastikan, kehadirannya untuk apa dan hendak bagaimana setelahnya.
Saya tidak sedang berupaya membuat yang biasa-biasa saja menjadi tegang. Semua memang biasa saja, sebagaimana kita telah biasa dan mafhum bahwa sejarah manusia dari zaman ke zaman telah banyak berbicara. Ketika suatu masyarakat yang menempati suatu wilayah tidak mampu memberikan batasan-batasan yang jelas, mengendalikan kehendak orang-orang yang datang, pada akhirnya baik disadari maupun tidak, masyarakat tersebut akan menjadi tamu di rumah sendiri. Kalah menentukan posisi, kalah dalam memastikan kepemilikan atas apa yang sesungguhnya menjadi haknya, dan kekalahan-kekalahan lainnya. Tetapi kemenangan dan kekalahan di zaman dahulu lain dengan kemenangan dan kekalahan di zaman kini, begitu juga cara yang harus ditempuh.
Kini, tidak perlu lagi mengokang senjata dan perdebatan-perdebatan lisan akan hilang pada akhirnya. Kini manusia di bumi berada pada perang pembangunan opini. Sepandai apapun orang berdebat, menguak dan mengabarkan suatu hal, pada akhirnya akan hilang ditelan waktu, lain dengan tulisan yang akan terus ada dan terus dicetak dan terus berbicara menembus pikiran manusia dari satu generasi ke generasi seterusnya. Tidak heran seorang penulis idealis seperti Pramoedya mengatakan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
Dan tentang Banda Naira, bukan hanya soal menulis sebagai bentuk eksistensi manusia secara pribadi, melainkan eksistensi sebuah nilai, harapan, dan sejarah Bangsa Indonesia, Nusantara, bahkan dunia. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap hal dapat dibelokkan oleh kekuasaan, kepentingan, atau kelalaian dalam rentetan agenda pembenaran yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk maksud-maksud tertentu di hari ini dan masa depan. Sebagaimana sejarah Kolonial Belanda yang hingga kini menyimpan seribu satu misteri di balik catatan-catatan yang seolah-oleh terang benderang.
Marjolein van Pagee, seorang sejarawan Belanda yang telah meneliti Sejarah Kolonial mengatakan, ada semacam paradoks. Di satu sisi, telah banyak sekali buku-buku Belanda yang ditulis, tentang masa penjajahan di Indonesia, sehingga sulit untuk mengatakan bahwa sejarah telah dilupakan. Namun di sisi lain, Sejarah Kolonial menjadi sesuatu yang belum terungkap. Masa penjajahan ini tidak benar-benar menjadi bagian dari ingatan bangsa Belanda.
Bagi Marjolein, Belanda seolah-oleh berangkat dari pandangan bahwa kehadirannya di tanah jajahan adalah (keadaan) normal. Mereka tidak mempermasalahkan legitimasi. Nampaknya titik berangkat Belanda adalah ketika dua pihak berperang, kedua belah pihak salah. Mereka tak membahas ketimpangan struktur kekuasaan di baliknya. Mereka membangun opini bahwa kekerasan Indonesialah yang memicu tentara Belanda untuk melakukan kejahatan perang. Marjolein melihat ini sebagai sebuah narasi kebohongan, karena bagaimana pun kehadiran Belanda sendiri adalah pelanggaran terhadap kedaulatan Indonesia. Baginya, ini seperti membicarakan Holocaust tanpa mempelajari Ideologi Nazi.
Saya tidak hendak mengetengahkan sejarah tersebut, tidak juga merasa perlu membicarakan perdebatannya. Rasanya habis sia-sia tenaga kita untuk membantah jutaan eksemplar buku sejarah yang telah dicetak Belanda untuk membuat catatan sejarah versi mereka. Pengakuan Marjolein saya hadirkan hanya sebagai satu contoh bahwa betapa penting kesusastraan hadir di Banda Naira, karena meski masyarakat Banda Naira sepengamatan saya adalah orang-orang cerdas yang memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik, dan konsep pelayanan publik yang cukup baik, namun ada yang belum benar-benar terisi, kesusastraan dalam pengertian seluas-luasnya.
Sampai di sini, tibalah pemikiran bahwa pilihan PSBNS kepada Banda Naira, ketika orang-orang kebanyakan menjatuhkan pilihan pada gedung-gedung kampus, adalah pilihan yang rasional dan sesuai dengan kebutuhan (tentu ini tidak dalam rangka membandingkan dua pilihan sebagai yang baik dan buruk). Dunia sastra memang sudah waktunya ke luar dari gedung-gedung dingin yang tertutup. Sastrawan-sastrawan dunia harus diantarkan kepada ruang-ruang terbuka, di mana kenyataan berbicara dengan bahasa yang sangat jujur. Di tengah kenyataan tersebut sebuah wacana diutarakan, rencana-rencana diagendakan, dan pergerakan-pergerakan sastra dibuat, sehingga kesusastraan dunia dan dunia kesusastraan sungguh-sungguh dapat hadir sebagai yang universal.
Banda Naira, 27 Oktober 2018
Muhammad Rois Rinaldi, Ketua Persatuan OSIS se-Kabupaten Serang (2007/2008), Pendiri Rumah Baca BAI (2007), Sekretaris Bidang Sosbud Himpunan Mahasiswa & Pelajar Cilegon (2008/2012), Pendiri Ikatan Keluarga BEM Cilegon (2012), Sekjen Dewan Kesenian Cilegon (2012/2016), Presiden Lentera Sastra Indonesia (2014/2018), dan Koordinator Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (2016-sekarang).