Inspirasi

Kultum bersama Imam al-Ghazali: Kejujuran dan Tanda-tandanya

“Dalam sifat hamba, kejujuran berarti tidak adanya perbedaan antara sifat rahasia dan terang-terangan, lahir dan bathin.”

Infishal, Ittishal, Tahqiq dan Tafrid

KEJUJURAN BAGI ALLAH swt. merupakan sifat Dzatiyyah yang bersumber dari makna Kalam-Nya. Dalam sifat hamba, kejujuran berarti tidak adanya perbedaan antara rahasia dan terang-terangan, lahir dan bathin. Dengan sifat jujur, tercapailah seluruh maqam dan ahwal.

Meski keikhlasan beserta keagungannya itu memerlukan kejujuran, tapi kejujuran tidak membutuhkan apapun. Karena hakikat keikhlasan dalam beribadah yaitu menghendaki Allah dengan berbuat taat. Karena, terkadang Allah menjadi tujuan seseorang dalam shalat. tetapi justru ia melalaikan dengan ketidakhadiran hatinya.

Kejujuran yaitu menghendaki Allah dengan beribadah disertai kehadiran bersama-Nya. Jadi, setiap yang jujur berarti ikhlas, tetapi tidak setiap orang yang ikhlas itu jujur. Inilah makna terpisah (Infishal) sekaligus bersambung (Ittishal). Terpisah dari selain Allah dan bersambung denga-Nya melalui kehadiran hati.

Adapun tahqiq artinya membedakan berbagai maqam dan ahwal satu sama lain, dan memurnikannya dari segala sesuatu selain Allah dan noda-noda. Tafrid bermakna berdirinya hamba bersama Allah tanpa ilmu maupun ahwal. Sebab ia menyaksikan kesendirian Allah dalam menciptakan segala wujud dan kekuasaan-Nya yang mencakup segala sesuatu.

SETIAP ORANG YANG JUJUR BERARTI IKHLAS, TETAPI TIDAK SETIAP ORANG YANG IKHLAS ITU JUJUR

***

*) Naskah diambil dari buku “Taman Kebenaran; Sebuah Destinasi Spiritual Mencari Jati Diri Menemukan Tuhan” yang diterbitkan Turos. Terjemahan singkat dari Kitab Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin karangan Imam al-Ghazali. Penerjemah: Kaserun AS. Rahman.



Editor: Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button