KabarTerkini

Jimmy Paat: Masa Mahasiswa Diminta Cium Bau Rakyat

Yang mau saya katakan, dengarlah mahasiswa!

JAKARTA, biem.co — Pada kesempatan menghadiri program Mata Najwa Rabu lalu, ada empat aktivis mahasiswa dari empat perguruan tinggi di Indonesia, yakni: Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI; Ardhi Rasy Wardhana, Presiden Keluarga Mahasiswa ITB; Obed Kresna Widyapratistha, Presiden Mahasiswa UGM; Qudsyi Ainul Fawaid, Ketua BEM IPB; dan Gafar Revindo, Presiden Mahasiswa Trisakti.

Dalam pembukaan segmen, masing-masing diberi kesempatan untuk berorasi di depan khalayak. Dalam forum yang juga mengundang berbagai mantan aktivis dan pejabat, seperti: M. Nasir selaku Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; Moeldoko selaku Kepala Staf Kepresidenan; Adian Napitupulu selaku Anggota DPR RI Fraksi PDI-P sekaligus mantan aktivis; Desmond J. Mahesa selaku Anggota DPR RI Fraksi Gerindra; dan Ahmad Yoan selaku Anggota DPR RI Fraksi PAN.

Kala itu, peristiwa Asmat menjadi fokus dalam perbincangan pada debat pertama, masing-masing pejabat diberi kesempatan untuk berpendapat mengenai aksi yang dilakukan oleh Ketua BEM UI tersebut.

Diskusi yang membahas mengenai isu gizi buruk di Asmat, isu penghidupan kembali dwifungsi Polri/TNI, dan penerapan peraturan baru organisasi mahasiswa itu menjadi suatu kebangkitan kembali bahwa perjuangan mahasiswa masih berlangsung hingga sekarang dalam menjadi agen perubahan.

Segala pro dan kontra dalam suatu aksi akan selalu ada, yang nantinya akan menjadi suatu perbincangan hingga menemukan titik temu yang akurat. Namun, dalam program yang dibawakan oleh Najwa Shihab tersebut, banyak sekali perbedaan mengenai statement oleh para pejabat, mantan aktivis hingga aktivis mahasiswa yang berada dalam podium.

Dalam segmen terakhir, Jimmy Paat selaku Pemerhati Pendidikan UNJ, yang berada dalam kursi bersama penonton tersebut diberi kesempatan berbicara mengenai debat yang telah berlangsung sekitar 90 menit.

Ia memberi sedikit masukan mengenai keadaan mahasiswa yang terjadi di dunia perguruan tinggi, menyindir juga apa yang dikatakan oleh Adian Napitupulu mengenai tindakan yang dilakukan mahasiswa tersebut, bahwa mahasiswa sebelum bertindak harus mengetahui terlebih dahulu apa yang terjadi sebenarnya, mencium terlebih dahulu apa yang dirasakan rakyat, mencium bau rakyat itu sendiri, jangan hanya dari buku seolah-olah mengerti persoalan rakyat.

Jimmy membantah, bahwa sebaiknya kita harus mendengarkan mahasiswa, buatnya mahasiswa-mahasiswa yang berada di depan podium itu menjadi aktivis sangat baik. Sebab,­ mereka bisa membagi waktu dengan baik. Selain harus kuliah 23 sks, mereka juga peduli bagaimana kondisi rakyat Indonesia setiap hari.

“Yang mau saya katakan, dengarlah mahasiswa! Jangan pakai nilai kita, masa diminta harus mencium bau rakyat, tidak bisa seperti itu. Mahasiswa itu ya seperti ini, saya kebetulan dosen, jadi saya sangat mengharapkan mahasiswa itu ya menjadi agen kritik, itu saja tugas saya sebagai dosen membuat mahasiswa untuk menjadi agen kritik, tentu saja kritik itu seperti dikatakan teman dari ITB atau UGM misalnya landasannya buku, bukunya yang dibaca, kalau memang bukunya buku-buku yang kritik ya cukup, tidak usah mencium bau rakyat. Itulah yang cukup harus dipahami oleh kita, dengarlah mahasiswa, bernegosiasi dengan mereka ketika ingin membuat aturan main yang ada di universitas,” ujarnya.

Beberapa aktifis mahasiswa yang diundang dalam program tersebut pun, tidak jenuh-jenuhnya mengutarakan keinginan untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan berbicara langsung apa yang telah menjadi sebab suatu aksi terjadi.

Mengulas aksi kartu kuning yang dilakukan Zaadit Taqwa belum lama ini, telah menjadi tolok ukur apakah pendidikan dalam perguruan tinggi dan keadaan Indonesia selama ini baik-baik saja dan mengapa ada peraturan baru organisasi mahasiswa. (uti)

Editor: Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button