Oleh Udi Samanhudi
biem.co — ‘Publish or Perish’ adalah sebuah doktrin barat yang sangat fenomenal karena bagi sekelompok kalangan akademisi doktrin ini menjadi momok yang menakutkan namun sekaligus motivator untuk berkarya tulis. Di barat sana, ada istilah dead wood yang biasa disematkan pada para akademisi yang mandul berkarya tulis karena terjebak oleh rutinitas mengajar yang jadwalnya padat merayap atau rasa kurang percaya diri yang sering kali hinggap di hati. Kesibukan di luar kampus yang juga sangat menyita waktupun menjadi alasan lainnya untuk tidak bersibuk-sibuk menulis.
Alhasil, dengan doktrin ‘Publish or Perish’ ini para akademisi di negara-negara barat sana berjuang mati-matian untuk berkarya tulis baik berupa hasil penelitian maupun kajian literatur yang mereka publikasikan di jurnal-jurnal Internasional bereputasi dan ber-impact factor tinggi di bidang mereka masing-masing guna menghindari istilah ‘kayu lapuk’ (dead wood). Selain itu, para akademisi barat ini nampaknya menulis karena didorong oleh sebuah kesadaran bahwa bendera seorang akademisi adalah karya tulisnya dan bukan jabatan struktural sementara di lingkungan kampus yang kebetulan tengah diembannya.
Hal serupa kurang lebih juga berlaku sama untuk para akademisi di negara kita Indonesia yang dituntut untuk produktif berkarya tulis dan menyebarkan ilmu pengetahuan pada masyarakat sesuai dengan bidang dan kepakarannya masing-masing. Sederhananya, para akademisi hendaknya menjadi ‘Profesor Substansial’ meminjam istilah Pak Sulardi, dosen di Universitas Muhammadiyah Malang sana yang artikelnya perihal keprofesoran tengah ramai di-viral-kan dan diperbincangkan. Artinya, tanpa gelar formil professor-pun sejatinya para akademisi adalah ‘profesor’ pada bidang yang tengah digelutinya dan menulis adalah corong kontribusinya pada khalayak.
Baca juga: Udi Samanhudi: Berbahasa Inggris seperti Native Speaker, Haruskah?
Alasan mengapa harus menulis juga cukup jelas. Kegiatan menulis pada hakikatnya adalah sebuah kegiatan yang ditujukan untuk membangun pengetahuan secara kolektif melalui proses negosiasi panjang antara penulis dengan para pembacanya. Misalnya, dalam proses menulis tercipta sebuah kesempatan untuk berbagi hasil penelitian terkini dan melemparkan sebuah gagasan pada publik untuk kemudian mendapatkan masukan yang konstruktif sebagai bekal pengembangan selanjutnya.
Dalam kegiatan menulis juga terbuka peluang untuk berlatih menyajikan informasi yang objektif, evaluasi subjektif penulis terhadap sebuah isu tertentu dan negosiasi interpersonal (penulis dan pembaca) yang memungkinkan lahirnya keterbaruan (novelty) sebuah gagasan. Lebih jauh, menulis untuk membangun pengetahuan artinya menulis dengan argumen. Argumen yang baik adalah serangkaian pernyataan penulis yang didukung dengan elaborasi yang mapan dan ditopang oleh data yang relevan untuk menguatkan klaim yang sedari awal fondasinya dibangun oleh sang penulis.
Baca juga: Udi Samanhudi: Sensasi Nilai-Nilai Islam di Negara Maju
Dan, untuk mampu menghasilkan karya tulis yang berkontribusi pada penguatan maupun pengembangan ilmu pengetahuan, para ahli bahasa bersepakat akan pentingnya metadiscourse strategy yang difungsikan oleh para penulis saat memilih kata, frasa bahkan tanda baca untuk efek tertentu pada para pembaca. Strategi ini memungkinkan sebuah diskusi keilmuan yang terbuka antara penulis dan pembacanya. Knowledge is relative dan karenanya penting untuk terus dikuatkan melalui diskusi panjang para pembaca dari latar belakang keilmuan yang beragam.
Akhirnya, menulis yang berorientasi pada pengembangan keilmuan harus dilakukan dengan jujur dan penuh kehati-hatian oleh para penulisnya. Jika tidak, bukan tidak mungkin sebuah tulisan yang harusnya bermanfaat berakhir dengan lirih dalam tangis pilu ketakbermaknaan. Jadi, Publish or Persih hendaknya menjadi doktrin yang menggerakan kita semua untuk berkarya tulis dan mengabdikan diri pada pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau sudah seperti ini, istilah maju, mundur cantik-nya teteh Syahrini harusnya tidak berlaku saat hendak menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan ya. Bagaimana, sudah siap Publish dan mengatakan no way pada Perish?
Udi Samanhudi adalah Akademisi Untirta, Awardee Beasiswa LPDP program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemenkeu RI dan saat ini tengah menempuh studi doktoral dalam bidang Teaching of English for Speakers of Other Languages and Applied Linguistics, Queen’s University of Belfast, United Kingdom.
Berita Terkait :
Aprilia Dwi Tirani: Merah Putih Indonesiaku
Itsnaeni Rasikhah: Pentingnya Generasi Muda
Dramatis! Tim Nasional Indonesia Lolos ke Semifinal SEA Games 2017
Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.