Cerita Pendek Mauliediyaa Yassin
MELEWATI Kampung Priyayi, dari arah terminal Pakupatan, Serang, kami tiba di tempat yang sudah ia janjikan. Ia menggenggam erat kedua tanganku. Menyusuri jalan setapak menuju pelabuhan kecil di Karangantu. Pelabuhan yang terletak di dekat bangunan bersejarah—Banten Lama.
Kami saling memagut langit yang mendung. Menerka ombak akan menerjang kedua tubuh kami, lalu kami akan terempas dalam tawa yang panjang dan mengalahkan deru mesin perahu. Kami berhenti di ujung dermaga. Duduk berdampingan di antara anak keong yang lantas malu menyembunyikan kepalanya. Aku masuk pada kedalaman matanya yang teduh. Memandanginya lekat tanpa ia sadari, mengikuti urat wajahnya yang banyak menyimpan rahasia.
Aku harus tahu semua tentang dirinya!
Aku melempar pandang pada nelayan-nelayan pelabuhan yang begitu keras menarik mesin perahu. Anak-anak pelabuhan riuh berkejaran di dermaga. Pohon-pohon bakau yang hijau seolah menyambut kami yang sedang cemas. Perahu-perahu nelayan yang datang dan meninggalkan dermaga, seakan menjadi saksi kecemasan kami sore itu. Laki-laki di sampingku memecahkan hening.
“Aku rasa ini mimpi. Bertemu denganmu, lalu ku bawa kau ke tempat ini,” katanya lirih.
Aku tidak menjawab. Ia tidak tahu, betapa rasa tak percayaku begitu besar dari apa yang ia rasa. Aku mencoba tenang. Berpura-pura malas menanggapi kata-katanya itu.
Aku lebih tak percaya darimu. Laki-laki cassanova yang nyentrik itu, kini ada di dekatku. Di sampingku, menyentuh erat telapak tanganku yang dingin. Aku bercakap dalam hati.
Sementara langit semakin mendung. Namun hujan tak kunjung gugur, barang sebentar menghiburku dengan bunganya—fenomena indah di sela hujan yang selalu disebut laki-laki di sampingku ini. Kami banyak berdiam diri, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bertanya tentang masa laluku. Aku mencoba merabai setiap pertanyaan yang ia lontarkan. Rasanya ngilu. Seperti ia cemas akan masa laluku yang belum bisa aku selesaikan. Aku menjawab sebisa yang aku mau. Ia tak pernah memaksa aku untuk menjawab lebih dari apa yang sudah aku ucapkan. Oh, betapa si cassanova ini begitu ingin berdamai denganku. Tak ingin merusak hariku.
Aku coba kuatkan diri untuk bertanya tentang masa lalunya, seperti ia bertanya tentang masa laluku itu. Dia bercerita dengan tenang. Entah berhati-hati agar aku tak terluka, atau memang itu caranya untuk meyakinkanku bahwa masa lalunya lebih buruk dari apa yang aku alami. Tapi aku tak percaya. Lelaki dengan catatan segudang tentang nama-nama perempuan yang pernah dikencaninya ini, pernah juga merasakan nyeri hati yang mendalam. Benarkah? Aku rasa ia hanya ingin membawaku pada satu kenyataan yang sebenarnya tidak pernah aku tahu.
Katanya, “Tidak ada yang beda perasaan laki-laki dengan perempuan. Bahkan, ketika aku terluka, aku lebih sesak merasakan sakit itu. Aku hanya laki-laki cengeng. Dan aku pernah merasakan bagaimana rasanya berbulan-bulan tak menikmati senja, tak menikmati bening embun yang segar.”
Aku tahu rasanya itu. Sangat menyiksa. Seperti juga aku saat ini. Menanti senja yang sebentar lagi akan usai. Tapi aku masih menebak musim yang akan ia bagi setelah ini. Itu juga sangat menyiksa. Andai ia tahu tentang itu.
Aku melempar pandangan ke laut lepas. Menerka perasaanku yang mulai mencintai kata-katanya.
Ia berbisik, “Aku sungguh mencintaimu, Da. Jangan lagi kau bagi tentang masa lalumu. Hentikan pertanyaanmu tentang masa laluku. Cerita kita pasti lebih hangat dari itu.”
Suara laki-laki yang mulai kucintai ini, serupa petir yang kudengar di siang hari. Tentu, siang hari yang tanpa hujan. Tanpa mendung yang membendung cinta, juga kesakitan yang tak tertahan.
Ucapannya kali ini benar-benar membuatku luluh. Aku pun semakin sesak menahan derai yang tak sanggup kutunjukkan di hadapannya. Laki-laki yang sudah kusentuh jemarinya ini, akan menjadi siluet yang menjelma mawar di bawah jendela kamarku, di kaca air yang membayang wajahnya, di redup lampu yang pernah pecah mengejutkan, seperti juga kata-kataku yang pecah sebelum terdengar—sangat sesak dan mengejutkan ingatan.
Sementara ikan dan jejak ombak yang ditinggalkan perahu nelayan terdengar sangat lantang memaki aku yang tak bisa lagi menyusun kata-kata yang mestinya ia bawa kembali ke dalam sepinya. Memang kadang, kenyataan sangat menyebalkan!
Aku masih berdiam diri. Tak sanggup lagi membalas ucapannya. Hanya mataku yang mencari kesungguhan perkataannya tadi. Aku lekat merangsak masuk ke dalam matanya yang banyak menyimpan teduh di hari-hari yang kemarau. Aku menghitung jarak yang pernah kami lewati di musim gigil dan tandus di belahan masa lalu yang kaku. Aku menghela napas panjang. Dia menanti perkataanku. Paling tidak, ada kata-kata yang seharusnya dia dengar tanpa membuatnya menangis sore itu. Tapi aku tetap bergeming. Mematung.
Di ujung dermaga dengan lautan lepas, kami masih saling diam. Menjentikkan ujung jari kaki yang juga menyentuh ombak dengan lembut. Hanya rasa yang menggetarkan semuanya. Aku yakin, rasaku akan sampai di degupnya.
Kami memandangi perahu nelayan yang hilir-mudik menertawai kami. Ada detak yang tak mampu teresapi. Aku menyaksikan raut cemasnya dari balik sinar senja yang terhalang mega. Aku kembali tertunduk. Menghitung banyak gugup yang seolah turut andil dalam percakapan sore itu. Aku asyik menelan kenangannya. Menari-nari dalam riuh yang entah seindah apa. Aku sangat mencintainya kini. Dalam hitungan detik yang menyimpan diam penuh kesesakkan.
Matahari belum juga menenggelamkan cerita kami di ujung dermaga. Kedua tangan laki-laki ini menahanku untuk bergegas meninggalkan bising mesin perahu dan anak-anak keong laut yang sedari tadi menyadap kata-katanya. Semoga, anak-anak keong itu tak lantas mengabari siapa pun tentang rahasia yang kami lekatkan pada angin yang semilir.
Laki-laki ini terbata mengucapkan kata-kata yang seolah menjadi tumpuan terakhirnya.
“Da, jangan tinggalkan aku. Di dermaga yang kalah oleh pongah kejayaan penjajah ini, aku ingin menyuntingmu. Menyelamatkanmu dari getir hidup yang sudah banyak kau telan mentah-mentah. Lepas dari semua cerita masa laluku, aku ingin menyuntingmu sebagai yang terakhir. Aku memang cassanova, tapi itu aku anggap sebagai kekaguman orang-orang karena aku telah banyak menaklukkan hati perempuan. Dan kau, kau wanitaku yang terakhir. Aku berharap, di matamu, aku adalah cassanova terbaik di musim terindah yang pernah Tuhan beri untukmu. Da, aku sungguh likat padamu. Aku berjanji, denganku, kau akan mengarungi banyak musim yang belum pernah kau resapi. Kita akan terbang, menyusup masa depan. Mendaki semua terjal yang Tuhan buat, kita akan menyelam di kedalaman hasrat yang belum pernah kau rasakan.”
Wajahnya memerah. Bibir tipisnya seakan menjadi senjata yang membidikku. Aku menyerah. Sebelum aku lepas pandanganku dari ingatan yang lalu, aku coba mengumpulkan kekuatan untuk menahan segala derai yang akhirnya merinai di sepanjang perjalanan yang entah kapan lagi akan kami retas. Tapi sungguh, aku ingin meretasnya hari ini. Di antara gelombang yang diantarkan perahu pada tepian dermaga. Aku ingin memeluknya. Mendekap asanya yang tadi menyihirku penuh khidmat. Aku gugur pada laki-laki ini, laki-laki yang telah banyak menyakiti hati perempuan—setidaknya, itu yang pernah aku dengar. Aku gugur, Tuhan. Aku gugur.
Debur ombak kembali menerjang tepian dermaga. Empas lautan, membasahi kedua telapak kaki kami yang telanjang di laut lepas. Sementara burung-burung awan menari, membaca mantra untuk kebahagiaan kami di sepanjang masa. Tangan-tangan genit cassanova-ku mendekap harapan yang kian dekat pada kami.
Aku pulang, dengan mawar merah di sudut jariku yang terpasang infus. Membuka mata, mengingat adegan perbabak dalam mimpi yang baru saja aku sambangi. Aku mengulum senyum. Menyusun kembali potongan perjalanan yang belum usai kami jejaki. Ponselku berdering. Satu pesan muncul di kolom ‘pesan masuk’.
Ri: Aku titipkan mawar merah pada ibu. Lekas membaik, Laidaku. Aku sedang bergegas, menyelami kata-kata untuk menyuntingmu di lautan lepas. Menari di Pulo Tunda, dan menanam banyak Bakau di sana. Aku rindu senyum ranummu yang melukis bening embun. Aku Cassanova-mu yang baik, bukan?
Banten, Juli 2014
Mauliediyaa Yassin. Penulis lahir di kota Serang, 3 Oktober 1990. Karyanya pernah dimuat di koran lokal, masuk dalam antologi cerpen Bulan Kebabian dan Sarkofagus (Antologi cerpen bersama kawan-kawan UKM-F Belistra, Untirta dan peserta sayembara cerpen Mahasiswa se-Indonesia). Sajaknya juga pernah tergabung dalam antologi puisi perempuan Kubah Budaya Musim untuk Laida. Follow Twitter-nya @Maulidiyayassin.